Perjalanan revitalisasi tambak rakyat Indonesia sejak tahun 2002 hingga menjadi program nasional.
Kolapsnya budidaya udang windu yang pada awal tahun 1990-an menjadi primadona devisa negara non-migas meninggalkan jejak yang mengenaskan berupa tambak-tambak yang tutup dan terbengkalai di berbagai wilayah Indonesia.
Kondisi ini memunculkan tantangan baru, apakah lahan yang dikembalikan dari investor tersebut dapat dikelola sendiri oleh rakyat sebagai pemilik lahan dan kembali menjadi sumber penghidupan yang produktif.
Revitalisasi tambak dengan budidaya udang vannamei menjadi solusi. Upaya bersama tersebut membuka lembaran sejarah baru bahwa pengembangan tambak rakyat dapat meraih sukses.
Keberhasilan tersebut dicapai melalui pemilihan segmentasi budidaya yang tepat, pendampingan teknis yang konsisten, serta penerapan SOP yang disiplin.
Kampung Vannamei, program revitalisasi tambak idle melalui budidaya udang vannamei berbasis kawasan.
Rumah Tangga Vannamei, budidaya skala rumah tangga dengan modal minimal dan hasil maksimal.
Cluster Petambak Vannamei, pengembangan tambak rakyat yang lebih modern, produktif dan berkelanjutan.
Tahun Pengalaman
Program Inovasi
Penghargaan Nasional
Inisiasi yang sukses tersebut tidak hanya melahirkan entrepreneur (wirausahawan baru) yang sukses, tetapi juga menghasilkan pengakuan nasional atas kontribusinya dalam pengembangan pertambakan udang rakyat di Indonesia.
Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia memberikan penghargaan kepada Nonot Tri Waluyo sebagai Tokoh Penggerak & Pendamping Pertambakan Udang Indonesia .
Inisiator KaVe, RtVe dan CPVe yang mendedikasikan lebih dari tiga dekade untuk pengembangan tambak rakyat Indonesia.
Nonot Tri Waluyo, alumni Perikanan Universitas Brawijaya tahun 1983, memiliki perjalanan panjang dan penuh pengalaman dalam dunia budidaya perikanan Indonesia.
Selama mengabdi di CPPPrima pada periode 1990–2023, beliau dikenal sebagai sosok yang selalu menghadirkan ide, inovasi dan solusi nyata bagi petambak rakyat. Pengalamannya tidak hanya diperoleh dari ruang kerja, tetapi juga dari keterlibatan langsung di lapangan bersama petambak di berbagai daerah Indonesia.
Melalui kerja sama dengan petambak, sektor swasta, perguruan tinggi serta pemerintah, beliau mengumpulkan wawasan dan pengalaman yang sangat luas mengenai pengembangan budidaya udang rakyat.
Dari pengalaman tersebut lahirlah berbagai inisiatif yang kemudian dikenal sebagai KaVe (Kampung Vannamei), RtVe (Rumah Tangga Vannamei), dan CPVe (Cluster Petambak Vannamei).
Program-program tersebut berhasil membantu revitalisasi tambak-tambak yang tidak aktif, membina petambak dari nol pengalaman hingga menjadi pelaku usaha yang sukses dan mandiri.
Banyak kisah inspiratif dan kreativitas petambak dari berbagai pelosok negeri yang berhasil terbangun melalui pendekatan pendampingan teknis yang konsisten dan berkelanjutan.
Salah satu pengalaman paling berharga adalah mendampingi petambak dari nol pengalaman hingga mampu menjadi pengusaha tambak yang sukses. Pendekatan inilah yang kemudian menjadi fondasi utama lahirnya program KaVe, RtVe dan CPVe.
Meskipun telah menyelesaikan masa pengabdiannya di CPPPrima, semangat untuk membangun sektor budidaya Indonesia tidak pernah berhenti.
Beliau kemudian mendirikan Republik Vannamei (RepVe) sebagai wadah untuk melanjutkan pendampingan, pengembangan usaha budidaya, berbagi pengalaman, serta membantu lahirnya generasi petambak baru yang lebih produktif.
Bersama RepVe, berbagai gagasan dan pengalaman tersebut terus berkembang, menjangkau lebih banyak pelaku usaha, dan tidak hanya terbatas pada komoditas udang vannamei, tetapi juga berbagai sektor perikanan lainnya.
"Maju Bersama, Sukses Bersama"
Komoditas udang windu, mulai awal tahun 1990an menjadi primadona non migas, andalan pendulang devisa negara.
Prospek cerah ini membangkitkan investor untuk berinvestasi besar-besaran di sektor perikanan budidaya khususnya udang windu.
Daerah-daerah potensi di Jawa, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan Indonesia Timur bergeliat membuat tambak udang.
Tahun 2000an, Budidaya udang windu kolaps akibat kasus penyakit dihampir seluruh wilayah Indonesia yang berakibat banyak tambak yang tidak aktif/terbengkalai/idle sehingga ekspor udang turun drastis.
Karena pentingnya sektor perikanan khususnya bisnis udang, beberapa media memberitakan tambak-tambak yang tutup/idle/terbengkalai.
Disisi lain beberapa pengolah udang (cold storage) berinisiatif impor udang karena berkurangnya pasok udang didalam negeri.
SCI (Shrimp Club Indonesia), sebagai organisasi yang mewadahi para petambak Indonesia, menyampaikan data tambak-tambak yang tutup dan getol mencari solusi.
Proses revitalisasi sebuah kawasan mencakup perbaikan aspek fisik, aspek ekonomi dan aspek sosial. Pendekatan revitalisasi harus mampu mengenali dan memanfaatkan potensi lingkungan: sejarah, makna, keunikan lokasi dan citra tempat. (Danisworo, 2002).
Untuk melaksanakan revitalisasi perlu adanya keterlibatan masyarakat. Masyarakat yang terlibat tidak hanya masyarakat di lingkungan tersebut saja, tapi masyarakat dalam arti luas (Laretna, 2002)
Revitalisasi tidak hanya perbaikan tanggul, pemakaian pompa dan kincir rangkai/long arm yang sesuai untuk komuditas udang vannamei. Revitalisasi juga merupakan pemberdayaan masyarakat yang berkelangsungan yang didukung keamanan usaha. (Nonot, 2002)
Adalah program revitalisasi tambak-tambak idle/tutup/terbengkalai melalui budidaya udang vannamei pola tradisional plus dan semi intensive dengan konsep kawasan lestari dan pembentukan organisasi usaha berbasis kelompok (cluster KaVe).
Semua keberhasilan dan kesuksesan diawali dari keputusan untuk mencoba.
Petambak memulai budidaya secara bertahap dari segmen budidaya dari tradisional plus kemudian semi intensive. Jika petambak mampu secara modal dan sarana pendukung, memilih langsung ke semi intensive.
Tambak Tradisional Plus, memakai pompa balik untuk meningkatkan oksigen, yaitu mengambil air didalam petakan lalu dimasukkan lagi ke petak budidaya.
Ideal dengan fasilitas tandon atau kolam treatment yang berguna untuk menyimpan air dan mengolah air sebelum masuk ke petak budidaya. Tambak semi intensive biasanya dipilih dari tambak-tambak windu yang sudah tidak aktif.
Kincir rangkai jadi pilihan utama karena belum tersedia dipasaran kincir dinamo 1 phase dan rata-rata listrik belum menjangkau kawasan tambak rakyat.
Petambak membuat kincir rangkai mandiri, modifikasi mesin disel dengan poli (bisa 1 lengan atau 2 lengan)
Bakar bakar: solar.
Rekontruksi lahan tambak dengan perbaikan tanggul dan dasar petakan sehingga tidak bocor dan lumpur tersentral.
Tambak bekas udang windu, jadi pilihan karena tidak banyak pembenahan. Pilihan dasar petakan : tambak tanah, tambak mulsa, tambak plastik atau tambak terpal (note : bahan HDPE belum tersedia banyak)
Kincir rangkai kombinasi modifikasi gearbox bekas dengan 1 atau 2 lengan.
Bahan bakar : Irek (yaitu campuran minyak tanah sebanyak 1 drum + olie sebanyak 5 liter).
Kincir rangkai kombinasi modifikasi gardan bekas. Karena minyak solar mulai mahal, petambak beralih dengan bahan bakar minyak tanah atau irek.
Bahan bakar : Irek (yaitu campuran minyak tanah sebanyak 1 drum + olie sebanyak 5 liter).
Kincir rangkai kombinasi modifikasi gardan bekas dengan penghantar kincir bolak balik.
Bahan bakar : Irek (yaitu campuran minyak tanah sebanyak 1 drum + olie sebanyak 5 liter).
Kincir rangkai kombinasi modifikasi gardan bekas dan bak persneleng.
Bahan bakar : Irek (yaitu campuran minyak tanah sebanyak 1 drum + olie sebanyak 5 liter).
Kincir hasil memodifikasi pompa honda dan gardan bekas dengan penggerak LPG melon biru. Selain untuk menggerakkan kincir juga bisa diperalel untuk pompa air.
Bahan bakar : LPG biru 10kg
Kreatifitas kembali muncul akibat kelangkaan minyak tanah. Petambak kincir hasil memodifikasi gardan bekas dengan penggerak LPG melon hijau.
Bahan bakar : LPG melon 3kg
Pemetaan Kawasan tambak terbengkalai/idle menjadi beberapa KaVe untuk melihat potensi dan mempermudah pembinaan.
Penerapan biocesurity sangat bermanfaat dalam peningkatan sukses usaha dalam satu kawasan yang beragam segmen budidaya.
Manfaat lain adalah menjalin kekompakan untuk meraih sukses bersama. Biosecurity di tambak udang menggunakan Bird Scaring Device (BSD) dan Crab Protecting Device (CPD).
Pendampingan teknis meliputi program : Penerapan SOP yang benar, pembentukan Key Feeder, Diskusi teknis (SGM : Shrimp Group Meeting) dan Studi Perbandingan (FDT : Field Day Tour).
Dimulai membuat demopond (pilot) dengan pendampingan teknis dan target sukses. Sukses dalam satu kawasan sangat mudah terjadi efek samping (multiply effect) ke Kawasan baru dan seterusnya.
Sampling udang dilakukan setelah udang umur 30 hari dan secara periodik diulangi rentang waktu 7 atau 10 hari sekali untuk mengetahui pertambahan berat harian.
Dokumentasi kegiatan monitoring, sampling dan pembinaan petambak dalam satu kawasan KaVe.
Parsial harvest dilakukan dengan mengambil sebagian udang pada umur dan size tertentu dan terukur. Dengan cara ini dapat meningkatkan produktifitas tambak dan mengurangi resiko kegagalan.
Padat tebar tambak semi intensive 10-20 ekor/m2 dengan rata-rata produktifitas 0,8-1,5 ton/ha.
Padat tebar tambak semi intensive 25-50 ekor/m2 dengan rata-rata produktifitas 2.5-7,0 ton/ha.
Revitalisasi Tambak Rakyat program KaVe dicanangkan oleh Menteri KKP, Freddy Numberi didampingi Dirjen Budidaya KKP, Made L. Nurdjana di KaVe Kranji, Lamongan – Jatim, 14/1/2006.
(Sekaligus dilakukan panen udang dan tebar benih di tambak milik H. Ainurrofik, Kranji, Lamongan Jatim)
Kebutuhan teknisi sangat penting untuk menunjang kesuksesan program pengembangan tambak rakyat.
Sempat menjadi Kepala Sekolah Professional Aquaculture Technician Training (PACT) CPPrima, yang berada di Paiton-Jatim, Bandar Lampung, Bangka dan Aceh.
Mendidik calon teknisi dan analis laboratorium, yang kelak ditempatkan di sentra-sentra pertambakan seluruh wilayah Indonesia untuk mengontrol dan menerapkan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB).
Revitalisasi Tambak Rakyat secara resmi dicanangkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan saat itu, Freddy Numberi pada 14 Januari 2006.
Program ini merupakan bagian integral dari kebijakan revitalisasi perikanan nasional untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan pembudidaya.
Rekuntruksi tambak menjadi ukuran kecil (luas 300 – 1.500m2), memakai HDPE/terpal/mulsa dan kebutuhan oksigen dipenuhi oleh kincir dinamo atau kincir rangkai.
Lahan yang dipakai tidak memerlukan area yang luas sehingga banyak petambak yang memanfaatkan kebun pisang, pekarangan rumah, kebun Melati dll.
Adalah program Budidaya vannamei pola intensive skala rumah tangga (small scale) dengan luasan mini, modal minimal dan hasil maksimal untuk usaha yang lebih efektif, efisien dan produktif.
Resiko terbesar dalam hidup ini adalah sama sekali tidak terlibat mengambil risiko.